Jumat, 16 Maret 2012

TULISAN LAMA^_^


Ramadhan Merah Jambu..

Siang itu, 5 Ramadhan 1430 H, matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya..Ya, ia memang selalu bersemangat untuk menerangi bumi dalam ketundukkan pada Sang Penciptanya. Meski seringkali makhluk-makhluk-NYA yang lain justru mengeluhkan mengapa ia menyinari mereka dengan terik, sehingga cukup membuat mereka kehilangan banyak cairan tubuh, terlebih saat menjalankan puasa Ramadhan kali ini. Memang, hanya orang-orang yang bersabarlah yang mampu merasakan nikmatnya menahan diri di bulan penuh kemuliaan ini.
Sesaat setelah kuliah usai, Daffa melihat ke arah jam tangan, “Mmh, waktunya sholat dzuhur”, gumamnya. Ia pun segera melangkah ke tempat favoritnya selama menimba ilmu di universitas ini, Masjid Kampus. Tempat di mana ia mendapatkan ketenangan dan cahaya dari Sang Tercinta, yang tak dapat ia dapatkan di tempat lain.
Setibanya di teras Masjid“ Assalamu’alaykum, Hai Daf, apa kabar nih??Lama yah kita gak ketemu, padahal satu kampus..” Ternyata yang menghampirinya adalah Salman, teman sekelas semasa SMA dulu, di kota kelahiran Daffa, Solo. Sejak dulu mereka sangat akrab, maklumlah, sesama aktivis rohis dan juga OSIS, bahkan mereka bertekad untuk kuliah di universitas yang sama, dan saat ini tekad mereka telah terwujud, namun karena mereka berbeda fakultas, Daffa di Fakultas Teknik, Sedangkan Salman di Fakultas Ekonomi membuat mereka tenggelam dalam kesibukan di fakultasnya masing-masing sebagai seorang aktivis. Saat ini mereka memasuki semester 5 masa kuliahnya.
“Wa’alaykumsalam Warrahmatullah” Jawab Daffa. “ Lagi sibuk nyiapin apa nih Daf?”, Salman bertanya pada Daffa. Mereka mengobrol seiringan sembari berjalan menuju tempat wudhu. “Alhamdulillah, lagi nyiapin acara buka bareng anak yatim di FT..Kamu sendiri sekarang lagi sibuk apa Man? Yakin deh, temenku yang satu ini pasti gak akan melewatkan Ramadhannya begitu aja tanpa hal yang bermakna bagi orang banyak, ya kan?”Ah kamu bisa aja, sama kan kayak kamu..amiiiinn.hehehe, keduanya tertawa renyah kemudian masing-masing berwudhu.
Kekhusyukan selalu terpancar dari dua insan bersahabat ini saat “bersilaturahim” dengan Rabbnya. Seusai shalat, mereka menyempatkan diri mengobrol. “Daf, sebenarnya ada yang ingin aku ceritain sama kamu”.”Kamu kan sahabat yang paling aku percaya..”. Sekilas Daffa tertegun melihat sahabatnya yang ternyata begitu mempercayainya. Alhamdulillah..Daffa berkata dalam hati. “Ya Man, insyaAllah aku siap dengar cerita kamu..”. Daffa berkata sambil tersenyum mengangguk kepada sahabatnya itu.
Lalu, Salman pun mulai bercerita. Salman sedang menyukai seorang akhwat yang terasa spesial di hatinya. Perasaan itu bukan tanpa alasan. Karena sebelumnya, dia merasa telah siap untuk menikah. Mengingat dirinya telah memiliki beberapa usaha sejak duduk di semester pertama kuliahnya. Kuliah di Fakultas Ekonomi membuat jiwa wirausahanya semakin gesit melejit menatap masa depan. Sehingga ia sudah cukup mumpuni. Apalagi sebagai seorang mahasiswa. Saat sebagian besar mahasiswa hanya bisa menunggu kiriman bulanan orangtua, tidak begitu halnya dengan Salman. Ia justru telah memiliki penghasilan sendiri yang lebih dari cukup untuk hidup di kota tempat kuliahnya saat ini. Yogyakarta. Bahkan kini tabungannya sudah melampaui angka 50 juta. Sebuah prestasi luar biasa bagi seorang mahasiswa semester 5 yang punya segudang kesibukan seperti Salman.
Kembali ke akhwat tadi, ternyata perasaan sukanya pada akhwat tersebut membawanya pada keputusan mengajak akhwat yang dia sukainya itu untuk ta’aruf. Ternyata akhwat tersebut setuju. Sejak proses itu dimulai, ada malam-malam panjang yang diisinya dengan Istikharah penuh pasrah dan ikhlas kepada-NYA sebagai penentu setiap takdirnya. Termasuk takdir siapakah yang akan menjadi pendampingnya mengarungi hidup ini. Ternyata malam-malam panjangnya terjawab sudah. Akhirnya Salman memutuskan untuk meng-khitbah akhwat tersebut.
Daffa sedikit terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Sedikitpun ia tak menyangka bahwa Salman telah berfikir cukup jauh dalam menatap masa depannya, termasuk soal pendamping hidup. Diam-diam di sudut hatinya, ia sebenarnya merasa malu pada dirinya. Mengapa dia tidak sepemberani Salman? Mengapa dia hanya bisa memendam perasaan yang sebenarnya juga Daffa sedang rasakan, sama seperti Salman, sahabatnya?? Ya, sebuah perasaan yang kata orang berwarna merah jambu itu. Namun sejujurnya, sejak awal Ramadhan perasaan itu sedikit tersembunyi karena Daffa lebih memilih fokus pada Ramadhannya. Sebuah bulan yang menurutnya tak layak untuk disia-siakan begitu saja, apalagi diisi hanya untuk memikirkan masalah duniawi semata, termasuk perasaannya yang terpendam kepada seorang akhwat. Namun sejujurnya dalam hati Daffa kagum pada sahabatnya itu. Karena Salman selangkah lagi akan menyempurnakan separuh agamanya.
Selanjutnya, Daffa berusaha menggoda Salman,” Lalu, siapakah gerangan bidadari yang beruntung itu, Pangeran..?” hehe..Daffa melirik muka sahabatnya yang mendadak bersemu merah karena malu. Lalu Salman menjawab. “ Namanya Anggita, lengkapnya Anggita Purbarini, satu fakultas denganmu Daf, tapi dia ambil arsitektur..Dia seangkatan dengan kita” Sesaat Daffa merasakan ada palu godam yang menghantam kepalanya. Bagaimana mungkin??? Tanyanya dalam hati. Ternyata Salman mencintai seorang akhwat yang juga ia cintai. Ya, mereka mencintai orang yang sama...!!! Astaghfirullah, ujian ini, rasanya berat untuk Daffa pikul. Mengingat Salman, menurutnya, lebih pantas bersanding dengan Anggita. Karena jalan pikiran mereka terlihat sejalan. Salman aktif berwirausaha dan berorganisasi, sedangkan Anggita pun aktif di sebuah LSM yang membela hak-hak wanita. Kegiatan-kegiatan mereka sejalan, sama-sama bertujuan memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang banyak.  Namun, peristiwa ini menuntut ketegasan dan ketegaran seorang Daffa, sebagai seorang laki-laki sejati, dan tentu saja, juga sebagai seorang sahabat sejati. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya yang begitu ia sayangi dan juga menyayanginya karena Allah. Saat itu pula, Daffa bertekad dalam hatinya untuk memilih mengalah pada sahabatnya itu. Ia memilih untuk membuang jauh-jauh perasaan cintanya pada Anggita. Akhwat yang telah sempat mampu mengisi sepetak ruang kosong di hatinya. Dan kini ia sadar. Bahwa cinta yang tulus bukanlah cinta yang menghancurkan, apalagi menghancurkan ikatan indah bernama ukhuwah yang telah sekian lama ia rajut bersama sahabatnya itu.
Kemudian, seakan-akan tak ada yang terjadi, Daffa berkata kepada sahabatnya. “Oh, Ukhti Anggita..Subhanallah, kamu cerdas Man! Memilih akhwat seperti dia, sebagai rekan kerja di rohis FT, dia sangat kompeten dan berdedikasi. Barakallah, akhi.. Ditunggu undangannya deh.” Hehe..Daffa melirik sahabatnya yang saat itu terlihat sangat bahagia. “Ya Allah, kuatkan aku...” Doa Daffa dalam hatinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hati Daffa perih. Ya, mungkin karena hatinya terlalu peka untuk hal-hal sesensitif ini. Sebelumnya, ia bahkan juga telah memiliki hasrat untuk kelak bisa bersanding dengan Anggita. Namun, bersihnya hati Daffa menuntunnya pada keikhlasan demi kebahagiaan sahabatnya. Apalagi ia merasa bahwa Salman lebih cocok untuk Anggita. Ia pun akhirnya tersadar dan yakin bahwa Allah pasti menyiapkan seseorang yang terbaik untuknya. Meskipun bukan Anggita.
Esoknya, Salman mengabarkan pada Daffa bahwa orangtuanya menyetujui rencananya men-khitbah Anggita. “ Mereka setuju Daf..Alhamdulillah.”Kata Salman. “ Padahal tadinya kukira mereka akan menolak rencanaku menikah saat aku masih kuliah”. Namun ternyata dugaannya meleset. Orang tua Salman mendukung rencana anaknya itu. Apalagi mereka memahami bahwa buah hati mereka bukanlah jenis pemuda yang bermain-main dalam mengambil keputusan. Orangtua Salman menganggap Salman sudah cukup mapan untuk menikah. Karena ia telah memiliki penghasilan dan juga beberapa usaha yang cukup potensial dikembangkan, apalagi Anggita adalah seorang yang cocok untuk itu. Koneksi dan Link dari masing-masing mereka yang banyak membuat mereka berpotensi menyatukan kekuatan demi terwujudnya kehidupan rumah tangga yang diidamkan setiap insan. Sebuah rumah tangga yang diisi kesholehan dan kemapanan, serta nilai-nilai kerja keras yang begitu berharga.
“Mereka hanya berpesan kepadaku untuk tetap fokus kuliah hingga selesai. Ujar Salman.“ Aku bahagia, Daf..Allah telah berkenan mempertemukanku dengan seorang pendamping di usiaku yang relatif muda ini.”
“ Iya Man, subhanallah..kau beruntung,akhi..” Semoga kelak aku bisa menyusulmu.. Harap Daffa. “Pasti donk, insyaAllah Daf..” “ Aku yakin kau akan mendapatkan pendamping terbaik, karena kau adalah sahabatku yang terbaik, laki-laki yang baik hanya  untuk perempuan baik-baik, setuju?? “ Insya Allah” Daffa menjawab sambil mengamini doa sahabatnya itu.
“ Jadi bagaimana nih, Man? Kapan tepatnya kau akan mengadakan walimah?” Tanya Daffa pada sahabatnya itu.
“ Aku akan merundingkannya dulu dengan keluargaku dan keluarga Anggita, Daf”, “Karena aku yakin mereka lebih berpengalaman tentang masalah ini”
“Ok akh, ditunggu undangannya ya..”
Kemudian mereka berpisah. Salman kembali pada rutinitas kuliahnya yang masih berlanjut hari itu. Sedangkan Daffa memilih untuk kembali ke kontrakkannya. Ada beberapa tugas yang belum ia tuntaskan.
Akhirnya sampailah mereka pada hari akad nikah dan walimah Salman dan Anggita. Salman Al-Farisi dan Anggita Purbarini, itulah dua nama yang tertera di undangan. Akad dan walimah diselenggarakan di hari yang sama. Mereka mengadakannya pada tanggal 13 Syawal 1430. Tamu undangan berdatangan. Termasuk Daffa yang juga ikut berbahagia menyaksikan perjanjian agung dua insan di hadapan Allah, untuk membina sebuah ikatan suci bernama “ pernikahan”. “Subhanallah, indahnya.” Gumam Daffa yang tak terasa ikut meneteskan air mata saat sahabat terbaiknya, Salman mengucapkan akad nikah dan diterima oleh pihak Anggita yang merupakan awal terbentuknya ikatan suci antar mereka.
Di dalam hati, Daffa berujar. “ Sungguh, sahabatku ini berhak mendapatkan ini semua. Karena ia adalah seorang pekerja keras yang ikhlas, hanya padaNYA lah ia gantungkan seluruh cita-cita dan hasil dari setiap pekerjaannya.” Sesaat, Daffa teringat akan perkataan sahabatnya, Salman, yang sangat menyentuh saat mereka mendaftar kuliah bersama dulu.” Daf, kita harus yakin bahwa ada Allah yang slalu menjaga kita dalam setiap hembus nafas kita”, Dia lah yang akan selalu menuntun langkah kita kemanapun kita melangkah. Jadi, tak perlu kita khawatir akan kegagalan. Allah akan menuntun kita jika kita terus berusaha tanpa kenal lelah. Aku yakin Daf, kita bisa sukses di sini, di Universitas tempat kita akan mengejar cita-cita kita..” “Amiiinn. Kita BISA, PASTI BISA!!!” Mereka bersama berteriak sambil mengepalkan tangan di udara. Tak lupa pula mereka tak henti berucap syukur dan doa penuh harap. Ya, itulah saat tak terlupakan bagi Daffa. Sahabatnya itu memang selalu optimis dan tawakal. Apapun yang sedang ia perjuangkan, pada akhirnya selalu ia pasrahkan kepada Allah. Dan saat inilah hal itu terjawab sudah..Salman kini telah memiliki ma’isyah dan ‘aisyah dalam usia yang relatif muda.
Kini, Daffa berdoa dalam hati, “ Semoga aku bisa segera menyusulmu,Man..”amiinn..PASTI BISA..!! gumam Daffa sambil melirik sahabatnya yang sedang sibuk menyambut para tamu. Salman pun balas melirik sahabatnya dengan tatapan penuh arti seakan menjawab. “ Kamu PASTI BISA segera menyusulku, Daf..”.

by : Amaliyah Agustin _090909_ @11.49am  ^_^

TULISAN LAMA^_^


Ramadhan Merah Jambu..

Siang itu, 5 Ramadhan 1430 H, matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya..Ya, ia memang selalu bersemangat untuk menerangi bumi dalam ketundukkan pada Sang Penciptanya. Meski seringkali makhluk-makhluk-NYA yang lain justru mengeluhkan mengapa ia menyinari mereka dengan terik, sehingga cukup membuat mereka kehilangan banyak cairan tubuh, terlebih saat menjalankan puasa Ramadhan kali ini. Memang, hanya orang-orang yang bersabarlah yang mampu merasakan nikmatnya menahan diri di bulan penuh kemuliaan ini.
Sesaat setelah kuliah usai, Daffa melihat ke arah jam tangan, “Mmh, waktunya sholat dzuhur”, gumamnya. Ia pun segera melangkah ke tempat favoritnya selama menimba ilmu di universitas ini, Masjid Kampus. Tempat di mana ia mendapatkan ketenangan dan cahaya dari Sang Tercinta, yang tak dapat ia dapatkan di tempat lain.
Setibanya di teras Masjid“ Assalamu’alaykum, Hai Daf, apa kabar nih??Lama yah kita gak ketemu, padahal satu kampus..” Ternyata yang menghampirinya adalah Salman, teman sekelas semasa SMA dulu, di kota kelahiran Daffa, Solo. Sejak dulu mereka sangat akrab, maklumlah, sesama aktivis rohis dan juga OSIS, bahkan mereka bertekad untuk kuliah di universitas yang sama, dan saat ini tekad mereka telah terwujud, namun karena mereka berbeda fakultas, Daffa di Fakultas Teknik, Sedangkan Salman di Fakultas Ekonomi membuat mereka tenggelam dalam kesibukan di fakultasnya masing-masing sebagai seorang aktivis. Saat ini mereka memasuki semester 5 masa kuliahnya.
“Wa’alaykumsalam Warrahmatullah” Jawab Daffa. “ Lagi sibuk nyiapin apa nih Daf?”, Salman bertanya pada Daffa. Mereka mengobrol seiringan sembari berjalan menuju tempat wudhu. “Alhamdulillah, lagi nyiapin acara buka bareng anak yatim di FT..Kamu sendiri sekarang lagi sibuk apa Man? Yakin deh, temenku yang satu ini pasti gak akan melewatkan Ramadhannya begitu aja tanpa hal yang bermakna bagi orang banyak, ya kan?”Ah kamu bisa aja, sama kan kayak kamu..amiiiinn.hehehe, keduanya tertawa renyah kemudian masing-masing berwudhu.
Kekhusyukan selalu terpancar dari dua insan bersahabat ini saat “bersilaturahim” dengan Rabbnya. Seusai shalat, mereka menyempatkan diri mengobrol. “Daf, sebenarnya ada yang ingin aku ceritain sama kamu”.”Kamu kan sahabat yang paling aku percaya..”. Sekilas Daffa tertegun melihat sahabatnya yang ternyata begitu mempercayainya. Alhamdulillah..Daffa berkata dalam hati. “Ya Man, insyaAllah aku siap dengar cerita kamu..”. Daffa berkata sambil tersenyum mengangguk kepada sahabatnya itu.
Lalu, Salman pun mulai bercerita. Salman sedang menyukai seorang akhwat yang terasa spesial di hatinya. Perasaan itu bukan tanpa alasan. Karena sebelumnya, dia merasa telah siap untuk menikah. Mengingat dirinya telah memiliki beberapa usaha sejak duduk di semester pertama kuliahnya. Kuliah di Fakultas Ekonomi membuat jiwa wirausahanya semakin gesit melejit menatap masa depan. Sehingga ia sudah cukup mumpuni. Apalagi sebagai seorang mahasiswa. Saat sebagian besar mahasiswa hanya bisa menunggu kiriman bulanan orangtua, tidak begitu halnya dengan Salman. Ia justru telah memiliki penghasilan sendiri yang lebih dari cukup untuk hidup di kota tempat kuliahnya saat ini. Yogyakarta. Bahkan kini tabungannya sudah melampaui angka 50 juta. Sebuah prestasi luar biasa bagi seorang mahasiswa semester 5 yang punya segudang kesibukan seperti Salman.
Kembali ke akhwat tadi, ternyata perasaan sukanya pada akhwat tersebut membawanya pada keputusan mengajak akhwat yang dia sukainya itu untuk ta’aruf. Ternyata akhwat tersebut setuju. Sejak proses itu dimulai, ada malam-malam panjang yang diisinya dengan Istikharah penuh pasrah dan ikhlas kepada-NYA sebagai penentu setiap takdirnya. Termasuk takdir siapakah yang akan menjadi pendampingnya mengarungi hidup ini. Ternyata malam-malam panjangnya terjawab sudah. Akhirnya Salman memutuskan untuk meng-khitbah akhwat tersebut.
Daffa sedikit terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Sedikitpun ia tak menyangka bahwa Salman telah berfikir cukup jauh dalam menatap masa depannya, termasuk soal pendamping hidup. Diam-diam di sudut hatinya, ia sebenarnya merasa malu pada dirinya. Mengapa dia tidak sepemberani Salman? Mengapa dia hanya bisa memendam perasaan yang sebenarnya juga Daffa sedang rasakan, sama seperti Salman, sahabatnya?? Ya, sebuah perasaan yang kata orang berwarna merah jambu itu. Namun sejujurnya, sejak awal Ramadhan perasaan itu sedikit tersembunyi karena Daffa lebih memilih fokus pada Ramadhannya. Sebuah bulan yang menurutnya tak layak untuk disia-siakan begitu saja, apalagi diisi hanya untuk memikirkan masalah duniawi semata, termasuk perasaannya yang terpendam kepada seorang akhwat. Namun sejujurnya dalam hati Daffa kagum pada sahabatnya itu. Karena Salman selangkah lagi akan menyempurnakan separuh agamanya.
Selanjutnya, Daffa berusaha menggoda Salman,” Lalu, siapakah gerangan bidadari yang beruntung itu, Pangeran..?” hehe..Daffa melirik muka sahabatnya yang mendadak bersemu merah karena malu. Lalu Salman menjawab. “ Namanya Anggita, lengkapnya Anggita Purbarini, satu fakultas denganmu Daf, tapi dia ambil arsitektur..Dia seangkatan dengan kita” Sesaat Daffa merasakan ada palu godam yang menghantam kepalanya. Bagaimana mungkin??? Tanyanya dalam hati. Ternyata Salman mencintai seorang akhwat yang juga ia cintai. Ya, mereka mencintai orang yang sama...!!! Astaghfirullah, ujian ini, rasanya berat untuk Daffa pikul. Mengingat Salman, menurutnya, lebih pantas bersanding dengan Anggita. Karena jalan pikiran mereka terlihat sejalan. Salman aktif berwirausaha dan berorganisasi, sedangkan Anggita pun aktif di sebuah LSM yang membela hak-hak wanita. Kegiatan-kegiatan mereka sejalan, sama-sama bertujuan memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang banyak.  Namun, peristiwa ini menuntut ketegasan dan ketegaran seorang Daffa, sebagai seorang laki-laki sejati, dan tentu saja, juga sebagai seorang sahabat sejati. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya yang begitu ia sayangi dan juga menyayanginya karena Allah. Saat itu pula, Daffa bertekad dalam hatinya untuk memilih mengalah pada sahabatnya itu. Ia memilih untuk membuang jauh-jauh perasaan cintanya pada Anggita. Akhwat yang telah sempat mampu mengisi sepetak ruang kosong di hatinya. Dan kini ia sadar. Bahwa cinta yang tulus bukanlah cinta yang menghancurkan, apalagi menghancurkan ikatan indah bernama ukhuwah yang telah sekian lama ia rajut bersama sahabatnya itu.
Kemudian, seakan-akan tak ada yang terjadi, Daffa berkata kepada sahabatnya. “Oh, Ukhti Anggita..Subhanallah, kamu cerdas Man! Memilih akhwat seperti dia, sebagai rekan kerja di rohis FT, dia sangat kompeten dan berdedikasi. Barakallah, akhi.. Ditunggu undangannya deh.” Hehe..Daffa melirik sahabatnya yang saat itu terlihat sangat bahagia. “Ya Allah, kuatkan aku...” Doa Daffa dalam hatinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hati Daffa perih. Ya, mungkin karena hatinya terlalu peka untuk hal-hal sesensitif ini. Sebelumnya, ia bahkan juga telah memiliki hasrat untuk kelak bisa bersanding dengan Anggita. Namun, bersihnya hati Daffa menuntunnya pada keikhlasan demi kebahagiaan sahabatnya. Apalagi ia merasa bahwa Salman lebih cocok untuk Anggita. Ia pun akhirnya tersadar dan yakin bahwa Allah pasti menyiapkan seseorang yang terbaik untuknya. Meskipun bukan Anggita.
Esoknya, Salman mengabarkan pada Daffa bahwa orangtuanya menyetujui rencananya men-khitbah Anggita. “ Mereka setuju Daf..Alhamdulillah.”Kata Salman. “ Padahal tadinya kukira mereka akan menolak rencanaku menikah saat aku masih kuliah”. Namun ternyata dugaannya meleset. Orang tua Salman mendukung rencana anaknya itu. Apalagi mereka memahami bahwa buah hati mereka bukanlah jenis pemuda yang bermain-main dalam mengambil keputusan. Orangtua Salman menganggap Salman sudah cukup mapan untuk menikah. Karena ia telah memiliki penghasilan dan juga beberapa usaha yang cukup potensial dikembangkan, apalagi Anggita adalah seorang yang cocok untuk itu. Koneksi dan Link dari masing-masing mereka yang banyak membuat mereka berpotensi menyatukan kekuatan demi terwujudnya kehidupan rumah tangga yang diidamkan setiap insan. Sebuah rumah tangga yang diisi kesholehan dan kemapanan, serta nilai-nilai kerja keras yang begitu berharga.
“Mereka hanya berpesan kepadaku untuk tetap fokus kuliah hingga selesai. Ujar Salman.“ Aku bahagia, Daf..Allah telah berkenan mempertemukanku dengan seorang pendamping di usiaku yang relatif muda ini.”
“ Iya Man, subhanallah..kau beruntung,akhi..” Semoga kelak aku bisa menyusulmu.. Harap Daffa. “Pasti donk, insyaAllah Daf..” “ Aku yakin kau akan mendapatkan pendamping terbaik, karena kau adalah sahabatku yang terbaik, laki-laki yang baik hanya  untuk perempuan baik-baik, setuju?? “ Insya Allah” Daffa menjawab sambil mengamini doa sahabatnya itu.
“ Jadi bagaimana nih, Man? Kapan tepatnya kau akan mengadakan walimah?” Tanya Daffa pada sahabatnya itu.
“ Aku akan merundingkannya dulu dengan keluargaku dan keluarga Anggita, Daf”, “Karena aku yakin mereka lebih berpengalaman tentang masalah ini”
“Ok akh, ditunggu undangannya ya..”
Kemudian mereka berpisah. Salman kembali pada rutinitas kuliahnya yang masih berlanjut hari itu. Sedangkan Daffa memilih untuk kembali ke kontrakkannya. Ada beberapa tugas yang belum ia tuntaskan.
Akhirnya sampailah mereka pada hari akad nikah dan walimah Salman dan Anggita. Salman Al-Farisi dan Anggita Purbarini, itulah dua nama yang tertera di undangan. Akad dan walimah diselenggarakan di hari yang sama. Mereka mengadakannya pada tanggal 13 Syawal 1430. Tamu undangan berdatangan. Termasuk Daffa yang juga ikut berbahagia menyaksikan perjanjian agung dua insan di hadapan Allah, untuk membina sebuah ikatan suci bernama “ pernikahan”. “Subhanallah, indahnya.” Gumam Daffa yang tak terasa ikut meneteskan air mata saat sahabat terbaiknya, Salman mengucapkan akad nikah dan diterima oleh pihak Anggita yang merupakan awal terbentuknya ikatan suci antar mereka.
Di dalam hati, Daffa berujar. “ Sungguh, sahabatku ini berhak mendapatkan ini semua. Karena ia adalah seorang pekerja keras yang ikhlas, hanya padaNYA lah ia gantungkan seluruh cita-cita dan hasil dari setiap pekerjaannya.” Sesaat, Daffa teringat akan perkataan sahabatnya, Salman, yang sangat menyentuh saat mereka mendaftar kuliah bersama dulu.” Daf, kita harus yakin bahwa ada Allah yang slalu menjaga kita dalam setiap hembus nafas kita”, Dia lah yang akan selalu menuntun langkah kita kemanapun kita melangkah. Jadi, tak perlu kita khawatir akan kegagalan. Allah akan menuntun kita jika kita terus berusaha tanpa kenal lelah. Aku yakin Daf, kita bisa sukses di sini, di Universitas tempat kita akan mengejar cita-cita kita..” “Amiiinn. Kita BISA, PASTI BISA!!!” Mereka bersama berteriak sambil mengepalkan tangan di udara. Tak lupa pula mereka tak henti berucap syukur dan doa penuh harap. Ya, itulah saat tak terlupakan bagi Daffa. Sahabatnya itu memang selalu optimis dan tawakal. Apapun yang sedang ia perjuangkan, pada akhirnya selalu ia pasrahkan kepada Allah. Dan saat inilah hal itu terjawab sudah..Salman kini telah memiliki ma’isyah dan ‘aisyah dalam usia yang relatif muda.
Kini, Daffa berdoa dalam hati, “ Semoga aku bisa segera menyusulmu,Man..”amiinn..PASTI BISA..!! gumam Daffa sambil melirik sahabatnya yang sedang sibuk menyambut para tamu. Salman pun balas melirik sahabatnya dengan tatapan penuh arti seakan menjawab. “ Kamu PASTI BISA segera menyusulku, Daf..”.

by : Amaliyah Agustin _090909_ @11.49am  ^_^

Kamis, 15 Maret 2012

CANTIK


Cantik…
Satu kata yang membuat hati seorang wanita luluh..
Namun sebenarnya, apakah makna cantik itu sendiri…
Seringkali kita sebagai wanita tertipu oleh makna kata yang satu ini..
Kita seringkali menganggap cantik adalah pesona fisik semata..
Namun wahai wanita…
Tidakkah kita menyadari bahwa sesungguhnya makna cantik jauh lebih mulia dari itu..
Jauh lebih agung dari sekedar pesona fisik semata..
Bisa kau bayangkan…
Betapa rendahnya seorang wanita jika hanya dilihat dari kemolekan dan keindahan tubuhnya semata..
Sebagai seorang wanita..aku memaknai cantik sebagai sesuatu yang agung..
Yang terletak di “dalam”..
Bukan  di luar..yang dengan seenaknya orang dapat menjamahnya..
Duhai saudariku..
Ketahuilah bahwa sesungguhnya..
Cantik adalah ketika hatimu selalu tertuju pada kebaikan..
Cantik adalah ketika kau mampu menjunjung tinggi harga dirimu..
Sebagai seorang makhluknya yang agung…
Cantik adalah ketika kau selalu tersenyum walaupun cobaan datang silih berganti..
Cantik adalah ketika kau selalu ridho atas keputusan-nya untukmu setelah kau lelah berjuang untuk itu..
Cantik adalah ketika kau mampu menjaga lisanmu..
Menjaga lisan dari  hal-hal yang mampu membuat tuhanmu menjadi murka..
Untukmu yang ingin merasa cantik..maka cantiklah di hadapan Tuhanmu, maka kaupun akan terlihat cantik di mata mereka,ciptaan-NYA:)

Senin, 13 Februari 2012

Ingin Makin Bodoh?? Teruslah Merokok..


Bismillahirrohmaanirrohiim..
Anggapan bahwa merokok adalah tindakan bodoh semakin mendekati kebenaran. Para perokok dianggap bodoh karena mengabaikan ancaman yang tertulis dalam tiap kemasan rokok : “ Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan, dan janin !”. Namun lebih dari itu, merokok ternyata benar-benar menurunkan tingkat kecerdasan seseorang.
Setidaknya, inilah yang telah dibuktikan oleh Dr. Mark Weiser dari Sheba Medical Center di Tel Hashomer, Israel. Dalam penelitian yang melibatkan 20.000 calon taruna militer Israel, didapatkan bahwa mereka yang merokok ternyata memiliki IQ lebih rendah daripada yang tidak merokok.
Sebanyak 28 persen dari peserta penelitian merokok setidaknya sebatang per hari,, 3 persen adalah mantan perokok, dan yang 68 persen tidak pernah merokok.
Setelah menjalani tes, terlihat bahwa perokok secara signifikan memiliki skor IQ lebih rendah daripada non-perokok. IQ rata-rata non perokok sekitar 101, sedangkan para perokok memiliki point 94. Secara pasti, point ini terus turun seiring meningkatnya konsumsi rokok, dari 98 pada kelompok yang menghabiskan lebih dari satu bungkus per hari. Peneliti juga membandingkan IQ pada 70 pasang saudara kandung, di mana terdapat satu saudara merokok dan yang lain tidak. Sekali lagi, IQ rata-rata untuk non perokok pada kelompok saudara kandung lebih tinggi dibandingkan dengan perokok.
Jadi, kalau mau bertambah bodoh, teruskanlah kebiasaan merokok...!
( disarikan dari Majalah Islam Ar-Risalah edisi 106/April 2010 )

NB : hehe..buat tmen2 yang ngerokok, peace yah..gak ada maksud untuk menyinggung, cm mau sharing ilmu kok...Keep trying to stop smoking, guys..you can do it!!!SEMANGAT!!!^^

Tentang Seorang Gadis


Seorang gadis..
Perlu ada yang membela..
Agar ia terpelihara..dengan cinta Rabbnya,
Dengan rindu Rasulnya..dengan yakin Diinnya, dengan teguh akidahnya, dengan utuh cinta yang terutama, Allah dan juga Rasulnya... dalam ketaatan penuh setia... 
Pemelihara muruah dirinya, agama, keluarga dan ummatnya...

Seorang gadis itu...
Melenturnya perlu kasih sayang..
Membentuknya perlu kebijaksanaan..
Kesabaran dan kemaafan, keyakinan, dan penghargaan, tanpa jemu dan tanpa bosan,
Memimpin tangan, menunjuk jalan....
Seorang gadis itu.. yang hidup di alam ini, akhir zaman..
Era hidup penuh berdikari...dirinya terancam oleh fitnah..
Sucinya perlu tabah, cintanya tak boleh berubah..
Tak bisa terpadam oleh lelah, oleh keliru fikir jiwanya..
Karena dihambur ucap kata nista, hanya karena dunia memperdaya..

Karena seorang gadis itu, gaya hidup di zaman ini..perlu teguh kakinya..
Mantap iman mengunci jiwanya, dari lemah dan kalah, dalam pertarungan yang lama, dari rebah dan salah, dalam perjalanan  mengenali Tuhannya, dan pejuangan menggapai cinta..
Nikmat hakiki seorang hamba..
Dari Allah yang menciptakannya..
Dari Allah yang mengurniakan...
Seorang gadis itu..anugerah istimewa kepada dunia...

TAKE OPTIMIST AS YOUR CHOICE


Bismillahirrohmaanirrohiim..
- O P T I M I S T – When we hear that single word, our mind must be fulfilled with
“ The positive way that will bring someone into success ” . Unfortunately, we often ignore it as the way of our thinking in this life. Because sometimes, we forget that Allah SWT has already gave us so many potencies. As a human, we are more potential than another creatures, because we’re awarded three big natural potencies : brain, body, and soul. Because of that, we’re supposed to use it optimally in order to worship Allah SWT and fulfill the obligation as His servant in this world. Actually, as a human, everyone has the same chance to use, even to improve those potencies that was given by God The Almighty, Allah SWT. This is related in the Qur’an as follows:

 “ It is He Who created you from earth, then from a drop of sperm, then from a clot of blood, then He brings you out as infants, then so you may achieve full strength, then so you may become old men – though some of you may die before that time – so that you may reach a predetermined age and so that hopefully you will use your intellect. It is He Who gives life and causes to die. When He decides on something, He just says to it, "Be!" and it is.” (QS. Al Mu’min : 67-68)

From these verses we know that Allah SWT gives us potencies and opportunities to fill our life with. So that we can get survive in life and optimalize all the chances we have. As the human whose Allah SWT gave more potencies than another creatures, we are obligated to worship Him and fight to do the best in our life. Besides that, we are told the true purpose of creation in the Qur'an which Allah sent down as a guide to His servants. This purpose is to serve our Lord Who created us and allowed us to live. Allah describes this purpose in a verse of the Qur'an as follows:

… I only created jinn and man to worship Me. (QS.  Adh- Dhariyat: 56)

We have to believe that Allah SWT will give us the way of success if we keep in our struggles and fights to reach our goals, and of course with all pray to Allah SWT and let Him decides the result of our struggles. An optimist person will look the life with different thinking from others, he will think that life is such A GREAT CHALLENGE that has to be faced and solved. And of course then, an optimist person will use every chance to do the best in his life. Although life contains tears, difficulties, and obstacles, an optimist person will consider that as his chance to improve himself in every breath he takes on many aspects from his life. An optimist person will never give up, because he believes that Allah will always be inside him. He also trust in Allah SWT because he knows that Allah will give what he wants if he asks Him by praying . As Allah SWT promised in Qur’an : 

If Allah helps you, no one can defeat you. If He forsakes you,who can help you after that? So the believers should put their trust in Allah. (QS.  Al 'Imran: 160)

We will test you with a certain amount of fear and hunger, as well as loss of wealth and life and fruits. But give good news to the steadfast. ( QS. Al Baqarah : 155 )

So, it was exactly explained by Allah SWT in Al-Qur’an about His almighty. Allah SWT will test us with some difficulties, like fear and hunger, and He respects for those who are able to face and solve it patiently. Allah SWT is the only one decider of every goal that we put our expects in. Sometimes we are not aware about this. But lately, if we try to learn about the purpose of life, we will understand the meaning of life. That we have to be an optimist person who keep in faith with the destiny that Allah SWT promised to us. Because great struggles will produce great results. Hopefully, to get all pleasure and help from Allah SWT, we are supposed to always working hard and fighting to reach our goal. Remember that Allah SWT will give the best result for them who never give up and always optimist. So, Keep fighting and Keep spirit to reach our goals!!! May Allah SWT bless us.. and finally..
Just Take Optimist as Your Choice.. ^-^

By : @maliyah  @gustin

Sources :
  • Al-Qur’an
  • Translation of Al-Qur’an : “ The Nobel Qur’an : A New Rendering of It’s Meaning in English “  ( Hajj Abdalhaqq )
  • “Why Do You Deceive Yourself ? “ ( Harun Yahya )
  • “  Self-Sacrifice in The Qur’an’s Moral Teachings “ ( Harun Yahya )